Indonesia Cerdas Fest 2026 Ungkap Tantangan Lulusan Hadapi Dunia Kerja
- account_circle Aulia Akhira Ramadhani
- calendar_month Rabu, 18 Mar 2026
- visibility 6
- comment 0 komentar
- print Cetak

Indonesia Cerdas Fest 2026 Ungkap Tantangan Lulusan Hadapi Dunia Kerja | Doc: Istimewa
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Sukabumidigital – Indonesia Cerdas Fest 2026 mengungkap berbagai tantangan yang lulusan hadapi saat memasuki dunia kerja. Kegiatan ini berlangsung di Universitas Bina Sarana Informatika kampus Sukabumi, Jalan Raya Cemerlang No. 8, Sukakarya, Kecamatan Warudoyong, Kota Sukabumi, Kamis (26/03/2026). Dalam acara tersebut, Co-Founder Yayasan Bina Sarana Informatika, Ir. Naba Aji Notoseputro, menyampaikan orasi ilmiah tentang realita dunia kerja bagi lulusan baru.
Dalam paparannya, Naba mengingatkan bahwa kesempatan kuliah merupakan privilese yang tidak semua orang miliki. “Privilege kalian sangat besar di tengah realita pendidikan Indonesia, di mana hanya 3 dari 10 orang yang bisa kuliah,” ujarnya di hadapan mahasiswa.
Ia menyampaikan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi di Indonesia masih sekitar 32 persen. Sementara itu, lulusan perguruan tinggi hanya mencapai 10,2 persen dari total penduduk. Di sisi lain, jumlah pengangguran masih mencapai 7,4 juta orang.
Skill Gap dan Ketatnya Persaingan Kerja

Dunia Kerja Kian Ketat, Naba Soroti Skill Gap Lulusan di Era AI | Doc: Istimewa
Naba menegaskan bahwa tantangan tidak berhenti setelah lulus kuliah. Ia menyoroti fenomena lulusan yang harus mengirim puluhan lamaran kerja tanpa hasil, yang menunjukkan ketatnya persaingan di dunia kerja.
Ia menilai kesenjangan keterampilan antara dunia pendidikan dan industri menjadi akar masalah.
“Akar masalahnya adalah skill gap. Perubahan teknologi terjadi jauh lebih cepat dibandingkan adaptasi kurikulum kita di kampus,” kata Naba.
Ia juga menekankan bahwa nilai akademik tidak lagi menjadi satu-satunya penentu. Sebaliknya, dunia industri kini lebih mengutamakan kemampuan berpikir kritis, analitis, serta keterampilan adaptif.
Kompetensi Masa Depan di Era AI
Naba turut menyoroti perkembangan kecerdasan buatan yang semakin masif. Ia mengingatkan bahwa teknologi kini mampu memanipulasi realitas sehingga menuntut kesiapan baru dari para lulusan.
“Ketika realita bisa dipalsukan, keahlian apa yang akan menyelamatkan karir Anda?” ujarnya, mengingatkan pentingnya fondasi berpikir yang kuat.
Ia menjelaskan bahwa industri membutuhkan kemampuan analytical thinking, resilience, fleksibilitas, kepemimpinan, serta literasi AI. Kemampuan tersebut membantu lulusan tetap relevan di pasar kerja global.
Melalui kegiatan ini, UBSI sebagai Kampus Digital Kreatif menghadirkan Program Beasiswa Jalur Undangan sebagai upaya memperluas akses pendidikan. Naba menutup sesi dengan pesan optimistis bahwa setiap individu dapat menghadapi tantangan dunia kerja melalui persiapan yang matang.
- Penulis: Aulia Akhira Ramadhani

Saat ini belum ada komentar