Breaking News
light_mode
Beranda » Gaskeun » Pondok Halimun Selabintana, Surga Camping Murah di Sukabumi dengan Alam Asri dan Sungai Jernih

Pondok Halimun Selabintana, Surga Camping Murah di Sukabumi dengan Alam Asri dan Sungai Jernih

  • account_circle Anisa Azskia
  • calendar_month Senin, 11 Mei 2026
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sukabumidigital – Kabupaten Sukabumi menyimpan banyak permata wisata tersembunyi. Salah satunya Pondok Halimun, kawasan perkemahan legendaris Selabintana. Tempat ini kini menjelma menjadi destinasi favorit para pencinta alam, selebritas, hingga keluarga yang ingin merasakan dinginnya udara pegunungan tanpa perlu mendaki ekstrem.

Hamparan Hijau dan Sungai Jernih, Ini Daya Tarik Utama

Berlokasi jalur Selabintana, Pondok Halimun menawarkan pengalaman berkemuh yang berbeda. Pengunjung langsung disambut hamparan rumput luas seluas 10 hektar. Pepohonan tinggi mengelilingi area, menciptakan suasana asri dan teduh. Sebuah aliran sungai dengan air jernih mengalir di sisi kamp. Airnya yang segar cocok untuk sekadar berendam atau mencuci muka setelah lelah berkendara.

Fasilitas pendukung juga lengkap. Tersedia toilet bersih, gazebo, warung makan, area bermain anak, hingga wahana tambahan seperti sky bikeflying fox, dan river tubing dengan tarif sekitar Rp30.000 per orang.

Tiket Masuk Ramah Kantong, Jangan Percaya Isu Mahal

Media sosial sempat dihebohkan kabar tiket masuk Pondok Halimun mencapai Rp70.000. Kabar ini langsung dibantah pengelola. Koordinator Wisata Alam Pondok Halimun, Dedi Ruskandi, menegaskan bahwa tarif resmi mengacu pada Peraturan Daerah.

“Tarif dewasa hanya Rp12.000, anak-anak Rp7.000. Tidak benar jika ada yang mematok Rp70.000. Mungkin terjadi kesalahan hitung rombongan dalam video viral tersebut,” jelas Dedi.

Untuk camping ground, pengelola mengenakan biaya tambahan sekitar Rp20.000 per orang. Biaya parkir motor Rp10.000 dan mobil Rp20.000. Dengan harga segitu, pengunjung sudah menikmati udara sejuk khas kaki Gunung Gede sepanjang hari.

Masjid Tersembunyi: Wisata Rohani yang Menenangkan

Satu lagi keunikan Pondok Halimun. Di tengah rimbunan pohon, berdiri sebuah masjid sederhana namun meneduhkan. Masjid ini menjadi favorit wisatawan muslim yang ingin beribadah suasana berbeda.

Polemik Jalan Rusak: Cantik di Atas, “Ujian” di Bawah

Sayang, keindahan Pondok Halimun belum didukung akses jalan memadai. Sepanjang dua kilometer dari portal karcis Perbawati menuju pintu gerbang, pengunjung harus melewati aspal mengelupas, bebatuan tajam, serta kubangan lumpur saat hujan.

“Jalannya rusak hampir sepanjang jalur. Kalau hujan, jadi licin sekali. Pengendara motor harus ekstra hati-hati,” keluh Bayu Permana, warga Sukabumi yang kerap berkunjung.

Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Sukabumi, Ali Iskandar, mengakui masalah ini. “Jalan tersebut berada lahan PTPN, bukan kewenangan penuh pemerintah daerah. Kami terus koordinasikan perbaikannya,” ujarnya.

Meski akses terbatas, antusiasme wisatawan tidak surut. Buktinya, selama libur Idul Fitri 2026, Pondok Halimun mencatat penjualan 3.603 tiket dengan retribusi Rp21,6 juta. Angka ini membuktikan potensi besar destinasi tersebut.

Rencana Pengembangan ke Depan

Pemerintah Kabupaten Sukabumi tidak tinggal diam. Mereka berencana menggandeng investor untuk mengembangkan kawasan agrowisata terpadu, meniru konsep sukses di Gunung Mas, Bogor. Kerja sama ini mencakup perbaikan akses jalan, penambahan fasilitas, serta pengelolaan profesional tanpa mengubah keasrian alam.

“Pondok Halimun ini permata wisata kami. Sayang sekali tempatnya bagus, tapi jalannya tidak mendukung. Pemerintah harus segera memperbaiki jalan supaya wisatawan semakin nyaman,” pungkas Bayu.

Bagi Anda yang ingin merasakan camping seru dengan nuansa alam kental, Pondok Halimun Selabintana layak masuk daftar tujuan. Datang pagi hari, bawa perlengkapan sendiri, dan nikmati segarnya pegunungan tanpa perlu merogoh kocek dalam-dalam.

  • Penulis: Anisa Azskia
  • Editor: Lusi Mardiana

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pendidikan Bukan Sekadar Nilai, Tapi Proses Membentuk Cara Berpikir

    Pendidikan Bukan Sekadar Nilai, Tapi Proses Membentuk Cara Berpikir

    • calendar_month Senin, 30 Mar 2026
    • account_circle Ilham
    • 0Komentar

    Sukabumidigital – Selama berdekade-dekade, sistem pendidikan kita sering terjebak dalam obsesi angka di atas kertas. Bahkan, dalam praktiknya, banyak pihak menjadikan deretan nilai pada rapor sebagai tolok ukur utama keberhasilan. Padahal, pada kenyataannya, pendidikan tidak hanya berbicara tentang angka. Seharusnya, dalam konteks yang lebih luas, pendidikan menuntut seseorang mengolah informasi menjadi pemahaman yang utuh. Kemudian, […]

  • Mimpi Besar Terhambat Zona Nyaman, Saatnya Berani Melangkah dan Mengubah Arah Hidup

    Mimpi Besar Terhambat Zona Nyaman, Saatnya Berani Melangkah dan Mengubah Arah Hidup

    • calendar_month Senin, 27 Apr 2026
    • account_circle Varisca Zulianti Suryadi
    • 0Komentar

    Sukabumidigital – Memiliki mimpi besar sering menjadi awal perubahan hidup. Banyak orang ingin meraih karier lebih baik, membangun usaha, melanjutkan pendidikan, atau memberi dampak positif bagi lingkungan. Mereka sudah membayangkan masa depan yang lebih berkembang dan bermakna. Namun, keraguan muncul saat harus meninggalkan rutinitas yang terasa aman. Zona Nyaman Zona nyaman menciptakan stabilitas karena seseorang […]

  • Sering Minder di Tengah Persaingan? Ini yang Sebenarnya Terjadi

    Sering Minder di Tengah Persaingan? Ini yang Sebenarnya Terjadi

    • calendar_month Minggu, 5 Apr 2026
    • account_circle Varisca Zulianti Suryadi
    • 0Komentar

    Sukabumidigital – Persaingan muncul di hampir setiap fase kehidupan. Mahasiswa berusaha meraih IPK tinggi, karyawan mengejar promosi, dan pelaku usaha memperluas pasar. Banyak orang menyadari bahwa persaingan bisa mendorong kemajuan. Namun, tidak sedikit yang mulai merasa lelah dan kehilangan energi. Rasa jenuh ini perlahan menurunkan semangat untuk menjalani proses. Sebagian orang menginginkan hasil secara instan. […]

  • Komunitas Digital Kreatif di Sukabumi

    Cek Komunitas Digital Kreatif di Sukabumi yang Satu ini, Biar Kamu Nggak Ketinggalan Zaman!

    • calendar_month Senin, 20 Apr 2026
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    Sukabumidigital – Sebelum ngomongin komunitas digital kreatif di Sukabumi yang satu ini, kamu sadar nggak sih, sekarang itu bukan lagi soal “siapa yang paling pinter”, tapi “siapa yang paling cepet adaptasi”? Kalau kamu ngerasa dunia makin asing karena semuanya mendadak jadi serba digital, tenang, kamu nggak lagi mimpi. Jujur aja, liat orang sukses jualan live […]

  • Uji Skill Secara Nyata Lewat UKK, Siswa TKJ SMK Plus Cendekia Tunjukkan Kemampuan

    Uji Skill Secara Nyata Lewat UKK, Siswa TKJ SMK Plus Cendekia Tunjukkan Kemampuan

    • calendar_month Jumat, 24 Apr 2026
    • account_circle Ilham
    • 0Komentar

    Sukabumidigital – Dalam pendidikan vokasi, pengukuran kompetensi menjadi tahap penting untuk memastikan kesiapan siswa menghadapi dunia kerja. Uji Kompetensi Keahlian (UKK) hadir sebagai proses evaluasi akhir yang menilai kemampuan siswa secara menyeluruh, baik dari aspek teknis, prosedural, maupun sikap profesional. SMK Plus Cendekia Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, melaksanakan Uji Kompetensi Keahlian (UKK) jurusan Teknik Komputer […]

  • magerr 843

    “Mager” Jadi Musuh Utama Kesehatan: 58% Remaja Indonesia Kurang Gerak, Ini Risiko & Solusinya

    • calendar_month Kamis, 2 Apr 2026
    • account_circle Anisa Azskia
    • 0Komentar

    SukabumiDigital – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) meluncurkan peringatan keras terkait kebiasaan malas gerak atau “mager” yang kini menjangkiti sebagian besar remaja Indonesia. Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) terbaru, 58 persen remaja usia 10-14 tahun tergolong kurang aktivitas fisik .Angka ini jauh mengkhawatirkan. Kelompok lansia usia atas 65 tahun menyusul dengan 52,8 persen, lalu remaja akhir usia 15-19 tahun mencatatkan 50 persen. Direktur Jenderal Kesehatan […]

expand_less