Breaking News
light_mode
Beranda » Kabar » 900 Kali Aksi Kamisan: Korban Pelanggaran HAM Masih Menunggu Keadilan

900 Kali Aksi Kamisan: Korban Pelanggaran HAM Masih Menunggu Keadilan

  • account_circle Marlinda Azizah Sakima
  • calendar_month Jumat, 6 Mar 2026
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sukabumidigital – Aksi Kamisan memasuki gelaran ke-900 pada Kamis (05/03/2026) di depan Istana Negara, Jakarta. Momentum ini menandai konsistensi keluarga korban dan jaringan masyarakat sipil dalam menuntut penyelesaian kasus pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) berat di Indonesia yang hingga kini belum memperoleh kepastian hukum.

Sejak pertama kali digelar pada 18 Januari 2007, Aksi Kamisan berlangsung setiap Kamis sebagai bentuk protes damai terhadap berbagai kasus pelanggaran HAM berat yang belum terselesaikan. Kasus tersebut antara lain peristiwa 1965–1966, Tragedi Trisakti dan Semanggi I-II, serta penghilangan paksa 1997–1998. Hingga kini, korban dan keluarga korban masih menunggu kejelasan hukum dan pertanggungjawaban negara atas berbagai peristiwa tersebut.

Hentikan Impunitas

Angka 900 bukan sekadar simbol perjalanan panjang aksi ini, melainkan bukti keteguhan korban dan keluarga korban dalam memperjuangkan kebenaran, keadilan, serta pemulihan yang menyeluruh. Selama hampir dua dekade, negara belum menunjukkan langkah konkret dan komprehensif untuk menuntaskan kasus-kasus tersebut melalui mekanisme hukum yang transparan dan akuntabel.

Dalam aksi kamisan ke-900 ini, massa menyampaikan sejumlah tuntutan utama. Mereka mendesak pemerintah dan aparat penegak hukum segera menindaklanjuti hasil penyelidikan pelanggaran HAM berat yang Komnas HAM serahkan kepada Kejaksaan Agung. Selain itu, peserta aksi juga menuntut penghentian praktik impunitas dan meminta aparat memproses para pelaku tanpa memandang jabatan maupun latar belakang.

Pulihkan Hak Korban

Selain menuntut penegakan hukum, peserta aksi juga meminta negara menjamin perlindungan serta pemulihan hak-hak korban dan keluarga korban. Pemulihan tersebut mencakup rehabilitasi, kompensasi dan restitusi serta jaminan ketidakberulangan melalui reformasi kebijakan dan penguatan sistem hukum. Negara perlu memberikan pengakuan serta pemulihan yang bermartabat bagi para korban.

Aksi berlangsung damai dan diikuti keluarga korban, aktivis HAM, mahasiswa serta elemen masyarakat sipil dari berbagai daerah. Mereka menyuarakan tuntutan secara tertib dan konsisten sebagai bentuk partisipasi publik dalam mengawal agenda reformasi dan penghormatan terhadap HAM.

Momentum ke-900 ini juga menjadi refleksi atas komitmen negara terhadap amanat konstitusi serta berbagai instrumen hukum nasional maupun internasional yang telah Indonesia ratifikasi. Peserta aksi menegaskan bahwa pemerintah harus menerjemahkan komitmen tersebut melalui langkah nyata, bukan sekadar pernyataan politik.

Suara dari Publik

Untuk memperkaya perspektif publik, penulis melakukan wawancara secara daring dengan Syalwa Nailla pada Kamis, 5 Maret 2026. Dalam wawancara tersebut, Syalwa menyampaikan pandangan, tanggapan, dan harapannya terkait momentum Aksi Kamisan ke-900.

Syalwa menilai angka 900 bukan sekadar simbol perjalanan panjang aksi tersebut. Menurutnya, angka itu justru menunjukkan bahwa pemerintah masih belum memberi perhatian serius terhadap tuntutan masyarakat.

“Angka ini bukan sekadar angka. Angka ini menunjukkan bahwa pemerintah masih acuh terhadap kondisi di masyarakat. Padahal jika melihat di media sosial, aksi ini berlangsung damai dan jauh dari tindakan anarkis. Namun hingga sekarang pemerintah belum merespons tuntutan mereka secara memadai. Hal ini menimbulkan pertanyaan besar tentang sikap pemerintah terhadap perjuangan para korban,” kata Syalwa.

Syalwa juga menyoroti maraknya pelanggaran HAM yang masih terus terjadi. Ia menilai lemahnya penegakan hukum membuat pelaku kekerasan tidak menerima hukuman yang setimpal.

“Pelanggaran HAM semakin sering terjadi. Hukuman bagi pelaku sering kali membuat publik geleng kepala. Nyawa manusia seolah menjadi sangat murah. Ironisnya, aparat yang seharusnya melindungi masyarakat justru terkadang terlibat dalam tindakan kekerasan,” ujarnya.

Meski demikian, Syalwa tetap menunjukkan rasa hormat kepada keluarga korban yang hingga kini terus memperjuangkan keadilan.

“Saya sangat salut dan terharu melihat para orang tua korban yang masih berjuang sampai sekarang. Mereka terus menuntut kejelasan nasib dan keberadaan orang-orang yang mereka cintai. Perjuangan ini menunjukkan bahwa kasih sayang orang tua tidak pernah pudar. Saya juga berharap semakin banyak anak muda yang peduli terhadap isu ini sehingga perjuangan Aksi Kamisan dapat mencapai keadilan yang sesungguhnya,” tambahnya.

Harapan untuk Pemerintah

Syalwa juga berharap pemerintah lebih serius menyelesaikan berbagai persoalan di dalam negeri, termasuk pelanggaran HAM.

“Pemerintah perlu lebih fokus mengurus persoalan di dalam negeri, bukan hanya isu HAM tetapi juga berbagai masalah lain yang dihadapi masyarakat. Publik sering mempertanyakan sikap pemerintah ketika mampu menjadi penengah konflik di negara lain, tetapi belum menunjukkan langkah nyata untuk berdialog langsung dengan para aktivis dan korban di dalam negeri. Saya berharap Indonesia bisa segera membaik,” ujar Syalwa.

Aksi Kamisan menegaskan bahwa perjuangan ini tidak berhenti pada seremoni. Selama negara belum menegakkan keadilan dan belum mengungkap kebenaran secara utuh, peserta aksi akan terus menggelar Aksi Kamisan sebagai pengingat moral bagi negara.

  • Penulis: Marlinda Azizah Sakima

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Stop Boros! Begini Cara Mahasiswa Menabung Meski Uang Saku Terbatas

    Stop Boros! Begini Cara Mahasiswa Menabung Meski Uang Saku Terbatas

    • calendar_month Selasa, 1 Sep 2026
    • account_circle Aulia Akhira
    • 0Komentar

    Sukabumidigital.com – Banyak mahasiswa menganggap menabung hanya dapat dilakukan jika memiliki uang saku yang besar. Padahal, anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar. Kebiasaan menabung lebih bergantung pada kemampuan mengelola keuangan daripada besarnya pemasukan setiap bulan. Mahasiswa sering menghadapi berbagai kebutuhan, mulai dari biaya transportasi, makan, tugas kuliah, hingga kebutuhan hiburan. Jika tidak memiliki perencanaan keuangan yang […]

  • Bikin Feed Makin Kece! 7 Tempat Nongkrong Instagramable di Sukabumi yang Lagi Hits

    Bikin Feed Makin Kece! 7 Tempat Nongkrong Instagramable di Sukabumi yang Lagi Hits

    • calendar_month Selasa, 24 Feb 2026
    • account_circle Nesya Ayuna
    • 0Komentar

    Sukabumidigital – Aktivitas nongkrong kini tidak dapat dipisahkan dari kebutuhan berbagi momen di media sosial, Terutama di kalangan anak muda. Saat ini, pengunjung tidak hanya mencari makanan yang lezat, tetapi juga tempat dengan nilai estetika tinggi. Kota Sukabumi tidak hanya dikenal dengan suasananya yang sejuk, tetapi juga memiliki banyak tempat makan dan kafe yang menarik […]

  • Stop Lakuin 3 Hal Ini Mulai Sekarang Kalau Mau Hidup Lebih Produktif

    Stop Lakuin 3 Hal Ini Mulai Sekarang Kalau Mau Hidup Lebih Produktif

    • calendar_month Rabu, 23 Sep 2026
    • account_circle Ilham
    • 0Komentar

    Sukabumidigital.com – Menjadi produktif bukan berarti harus menyelesaikan banyak hal dalam sehari. Produktivitas juga berarti mampu mengatur waktu, menentukan prioritas, dan mengurangi kebiasaan yang membuat pekerjaan semakin berat. Kesibukan sehari-hari sering membuat seseorang melakukan berbagai kebiasaan kecil tanpa menyadarinya. Jika terus dilakukan, kebiasaan tersebut bisa menghabiskan waktu dan mengganggu fokus dalam menyelesaikan pekerjaan. Jika ingin […]

  • Deadline Terasa Mepet? Saatnya Mengubah Strategi Kerja agar Lebih Produktif

    Deadline Terasa Mepet? Saatnya Mengubah Strategi Kerja agar Lebih Produktif

    • calendar_month Sabtu, 28 Feb 2026
    • account_circle Varisca Zulianti Suryadi
    • 0Komentar

    Sukabumidigital – Deadline kerap terasa seperti musuh bersama. Mahasiswa dan pekerja muda sering mengeluhkan tugas yang datang bersamaan, waktu yang terasa makin sempit, serta tekanan yang meningkat menjelang hari pengumpulan. Tidak sedikit yang langsung menyalahkan jadwal padat atau atasan dan dosen yang dianggap terlalu menuntut. Namun sebelum menyalahkan keadaan, sebaiknya bercermin sejenak dan melihat apakah […]

  • Pelatihan Visualisasi Data Power BI Hadirkan Pengalaman Digital bagi Siswa SMKN 1 Cibadak

    Pelatihan Visualisasi Data Power BI Hadirkan Pengalaman Digital bagi Siswa SMKN 1 Cibadak

    • calendar_month Kamis, 28 Mei 2026
    • account_circle Siti Alia
    • 0Komentar

    Sukabumidigital – Mahasiswa Program Studi Sistem Informasi Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) Kampus Sukabumi menghadirkan pengalaman digital bagi siswa SMKN 1 Cibadak melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM). Kegiatan ini menjadi bagian dari tugas akhir mata kuliah Business Intelligence dengan mengusung tema Pelatihan Visualisasi dan Analisis Data Penjualan Produk Nike Menggunakan Power BI. Kegiatan yang […]

  • Mahasiswa UBSI Edukasi Wawasan Nusantara Berbasis Digital di SDN Dewi Sartika CBM

    Mahasiswa UBSI Edukasi Wawasan Nusantara Berbasis Digital di SDN Dewi Sartika CBM

    • calendar_month Selasa, 12 Mei 2026
    • account_circle Anisa Julia Utami
    • 0Komentar

    Sukabumidigital – Sembilan mahasiswa Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) Kelompok 2 Mata Kuliah Kewarganegaraan menggelar kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) di SDN Dewi Sartika CBM, Senin (11/05). Mereka menanamkan semangat kebangsaan kepada siswa melalui pembelajaran interaktif dan pemanfaatan teknologi digital. Melalui kegiatan ini, mahasiswa UBSI menghadirkan metode belajar yang kreatif dan relevan dengan perkembangan zaman. […]

expand_less