UBSI Bantah Keterlibatan Mahasiswa dalam Deklarasi Sumpah Pemuda di Bundaran HI, Telusuri Dugaan Penyalahgunaan Atribut Kampus
- account_circle Redaksi
- calendar_month 31 menit yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

UBSI Bantah Keterlibatan Mahasiswa dalam Deklarasi Sumpah Pemuda di Bundaran HI, Telusuri Dugaan Penyalahgunaan Atribut Kampus | Sumber: news.bsi
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Sukabumidigital.com, Jakarta – Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) memastikan tidak mengirimkan delegasi mahasiswa maupun menerima undangan untuk mengikuti kegiatan Deklarasi Sumpah Pemuda di Bundaran HI, Jakarta Pusat, Kamis (29/10). Pernyataan ini muncul setelah beredar video seorang perempuan yang mengenakan jas almamater dengan logo lama UBSI dalam kegiatan tersebut.
Wakil Rektor II Bidang Non Akademik UBSI, Adi Supriyatna, mengatakan pihak rektorat maupun organisasi kemahasiswaan tidak pernah menerima undangan. Kampus juga tidak menugaskan mahasiswa untuk menghadiri kegiatan tersebut.
“Pihak UBSI, baik di tingkat Rektorat maupun Organisasi Kemahasiswaan, tidak pernah menerima undangan dan tidak mengirimkan delegasi mahasiswa dalam kegiatan Deklarasi Sumpah Pemuda di Bundaran HI pada Kamis (29/10) tersebut,” ungkap Adi dalam keterangannya, Jumat (30/10).
Berdasarkan penelusuran awal, perempuan dalam video tersebut tidak tercatat sebagai mahasiswa aktif UBSI. Adi juga menjelaskan bahwa pihak kampus menemukan informasi dari kolom komentar media sosial yang menyebut jas almamater itu merupakan atribut pinjaman.
Ia menjelaskan, jas tersebut bukan almamater UBSI yang berlaku saat ini. Logo pada jas itu merupakan identitas lama ketika institusi masih berstatus akademi. UBSI tidak lagi menggunakan logo tersebut sejak beralih menjadi universitas pada 2018. Selain logo, warna jas dalam video juga berbeda dari almamater resmi yang digunakan sekarang.
“Kami menyayangkan penggunaan atribut yang identik dengan institusi kami oleh pihak yang bukan civitas academika UBSI. Saat ini tim kami masih menelusuri identitas yang bersangkutan, dan kami mengimbau masyarakat untuk tidak berspekulasi,” jelas Adi.
UBSI Telusuri Identitas Perempuan dalam Video
Menanggapi nama panggilan Sari yang turut muncul dalam sejumlah pemberitaan, pihak kemahasiswaan UBSI masih menelusuri identitas perempuan tersebut. Pemeriksaan awal terhadap data mahasiswa menunjukkan bahwa nama tersebut tidak tercatat sebagai mahasiswa aktif UBSI.
Namun, kampus masih membutuhkan data identitas yang lebih lengkap untuk memastikan apakah perempuan tersebut pernah menjadi alumni UBSI. Adi menjelaskan bahwa nama panggilan saja belum cukup untuk memastikan status seseorang.
Karena itu, UBSI meminta masyarakat tidak terburu-buru mengaitkan perempuan dalam video tersebut dengan mahasiswa maupun alumni kampus sebelum proses verifikasi selesai.
Almamater UBSI Jadi Simbol Identitas dan Tanggung Jawab
Adi menjelaskan, jas almamater dan logo lama tetap menjadi bagian dari perjalanan sejarah UBSI. Kampus memahami jika alumni masih menyimpan atribut tersebut sebagai kenang-kenangan sekaligus bentuk kebanggaan terhadap almamater.
Meski demikian, atribut lama itu tidak lagi mewakili identitas resmi UBSI sejak institusi bertransformasi menjadi universitas pada 2018. Alumni maupun masyarakat sebaiknya tidak menggunakan jas tersebut untuk mewakili atau mengatasnamakan kampus dalam kegiatan apa pun, terutama jika mereka bukan bagian dari sivitas akademika.
“Almamater bukan sekadar pakaian, melainkan simbol kehormatan dan tanggung jawab moral. Karena itu, kami mengimbau alumni maupun masyarakat untuk tidak meminjamkan atau menggunakan atribut tersebut di luar konteks yang semestinya,” tegas Adi.
Ia menambahkan, UBSI akan terus menyosialisasikan identitas visual yang berlaku agar masyarakat dapat membedakan atribut resmi universitas dengan identitas lama.
UBSI Siapkan Langkah Hukum dan Perketat Aturan Atribut Kampus
Terkait dugaan pencatutan identitas institusi, Adi menyebut UBSI memandang persoalan tersebut secara serius karena menyangkut nama baik dan integritas perguruan tinggi.
Sebagai langkah awal, tim kampus menelusuri sejumlah fakta, mulai dari identitas perempuan dalam video, asal-usul jas almamater, hingga bukti yang beredar di media sosial.
UBSI selanjutnya akan membahas hasil penelusuran bersama tim hukum dan pihak yayasan untuk menentukan langkah berikutnya. Kampus yang dikenal sebagai Kampus Digital Kreatif itu juga membuka kemungkinan menempuh jalur hukum apabila menemukan unsur kesengajaan dalam pencatutan nama institusi.
Dari sisi administratif, UBSI berencana memperkuat aturan internal mengenai penggunaan jas almamater dan atribut universitas. Salah satu langkah yang menjadi perhatian ialah mewajibkan mahasiswa maupun pihak lain membawa surat tugas resmi ketika mengikuti kegiatan eksternal atas nama UBSI.
Selain itu, kampus akan memanfaatkan kanal komunikasi resmi untuk menyampaikan informasi agar masyarakat memperoleh penjelasan yang utuh. Jika suatu pemberitaan keliru menyebut perempuan dalam video sebagai mahasiswa UBSI, kampus juga membuka kemungkinan menggunakan hak jawab sesuai ketentuan yang berlaku.
UBSI Tekankan Pentingnya Menjaga Nama Baik Almamater
Memanfaatkan momentum peringatan Sumpah Pemuda, Adi mengingatkan mahasiswa aktif agar menjaga nama baik institusi. Ia meminta mahasiswa memastikan setiap kegiatan eksternal yang membawa nama UBSI melalui koordinasi dan memperoleh izin resmi dari universitas.
Kepada alumni, Adi mengapresiasi kebanggaan mereka terhadap almamater. Namun, ia mengingatkan agar alumni tetap menjaga atribut kampus dan tidak meminjamkannya untuk kepentingan yang tidak jelas.
Adi juga mengajak masyarakat agar lebih cermat menyikapi informasi maupun klaim yang mengatasnamakan institusi pendidikan. Jika menemukan informasi yang meragukan, masyarakat dapat melakukan konfirmasi melalui kanal komunikasi resmi universitas.
“Di momentum Sumpah Pemuda ini, mari kita jadikan semangat persatuan sebagai pengingat bahwa identitas dan integritas harus dijaga bersama, karena kepercayaan publik terhadap dunia pendidikan adalah tanggung jawab kita semua,” pungkasnya.
Melalui pernyataan tersebut, UBSI berharap masyarakat memperoleh pemahaman yang tepat mengenai keterlibatan kampus dalam kegiatan Deklarasi Sumpah Pemuda di Bundaran HI. Universitas juga berkomitmen menjaga identitas dan nama baik lembaga melalui penelusuran yang objektif, komunikasi terbuka, serta penyelesaian sesuai prosedur.
- Penulis: Redaksi
- Editor: Lusi Mardiana

Saat ini belum ada komentar