Merasa Selalu Tertinggal? Begini Cara FOMO Diam-Diam Memengaruhi Gen Z
- account_circle Varisca Zulianti Suryadi
- calendar_month Minggu, 26 Jul 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

Merasa Selalu Tertinggal? Begini Cara FOMO Diam-Diam Memengaruhi Gen Z | Sumber: Generated AI (Gemini)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Sukabumidigital – Di tengah pesatnya perkembangan media sosial dan derasnya arus informasi, banyak anak muda mulai mengenal istilah Fear of Missing Out (FOMO). Istilah ini merujuk pada rasa takut tertinggal dari tren, pengalaman, pencapaian, atau aktivitas orang lain. Banyak anggota Generasi Z mengalami perasaan tersebut tanpa menyadarinya hingga akhirnya mengubah kebiasaan sehari-hari.
Setiap hari, media sosial menyuguhkan beragam konten dalam waktu yang hampir bersamaan. Sebagian orang membagikan aktivitas produktif, mencoba hobi baru, bepergian ke berbagai tempat, atau merayakan pencapaian akademik maupun karier. Beragam unggahan tersebut sering membuat banyak orang membandingkan kehidupan mereka dengan kehidupan orang lain.
Perasaan takut tertinggal tidak selalu muncul karena hal besar. Keinginan mengikuti tren, bergabung dalam kegiatan tertentu, atau mengejar pencapaian yang lebih cepat sering memicu rasa tersebut. Jika seseorang terus memenuhi dorongan itu, fokus mudah terpecah dan energi pun cepat terkuras.
Ketika Media Sosial Memengaruhi Cara Pandang Gen Z
Generasi Z tumbuh di tengah akses informasi yang sangat cepat. Kondisi ini memudahkan mereka mengikuti berbagai tren dan perkembangan baru setiap hari. Akibatnya, banyak anak muda berusaha mengisi waktu dengan beragam aktivitas agar tetap merasa relevan. Namun, keinginan melakukan banyak hal sekaligus justru mengurangi fokus dan membuat tubuh maupun pikiran cepat lelah.
Meski begitu, FOMO tidak selalu membawa dampak buruk. Perasaan tersebut dapat mendorong seseorang mencoba pengalaman baru, memperluas relasi, atau mengembangkan kemampuan diri. Namun, dorongan itu berubah menjadi masalah ketika seseorang terus mengejar setiap tren dan lupa menikmati proses yang sedang berlangsung.
Menyikapi FOMO dengan Lebih Bijak
Setiap orang perlu mengenali batas kemampuan dan memahami bahwa setiap individu memiliki waktu serta perjalanan yang berbeda. Kita tidak perlu mengikuti semua tren atau menjadikan pencapaian orang lain sebagai tolok ukur. Membatasi kebiasaan membandingkan diri, memilih informasi yang benar-benar bermanfaat, serta meluangkan waktu untuk beristirahat dapat membantu menjaga keseimbangan dalam menjalani aktivitas.
Pada akhirnya, banyak orang mungkin sulit menghindari FOMO di era digital. Namun, terus mengejar apa yang orang lain lakukan bukanlah solusi. Generasi Z dapat terus berkembang dengan menetapkan tujuan pribadi, menikmati setiap proses, dan menghargai pencapaian diri sendiri tanpa terus membandingkan hidup dengan orang lain.
- Penulis: Varisca Zulianti Suryadi
- Editor: Lusi Mardiana

Saat ini belum ada komentar